Not a Note Catatan Pribadi

Bandung at Dawn

Aku berjalan menyusuri jalanan yang masih berembun. Dingin yang menusuk tak kuhirau. Meski tak masuk dalam jajaran alasanku, tak ayal sekali dua kali aku memperhatikan rinci yang dahulu selalu terlewatkan. Memang semenjak walikota baru memegang komando, banyak fasilitas publik diperbaiki. Atau mungkin sekedar diperhatikan. Ah, apa pula hakku, kafilah yang hanya menumpang lewat di kota yang katanya dibuat dari kegembiraan, mengatakan demikian. Aku hanya mampu berterima kasih karena masih disediakan seciduk air dan rejeki di rantau yang jauh dari sanak.

Ini kali pertama aku benar-benar mendatangi tempat ini sebelum mentari terbit. Setelah hampir satu dekade aku hidup dan menghirup udara kota ini, selama itu pula tak terlintas dalam pikirku untuk menapaki jalan ini yang katanya bersejarah .

Aku masih terlarut dalam kenangan ketika kakiku mulai melangkah menuju trotoar seberang jalan, yang mana bisa kulihat dengan jelas tulisan Pidi Baiq,

Dan Bandung bagiku bukan hanya masalah geografis.

Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi

Terenyuh kulihat tulisan itu. Tak pelak, berbagai kenangan berhamburan, saling berebut dan menyusup mengisi relungku.

Aku suka kota ini.

Dengan segala kemacetannya, dengan segala keramahannya, dengan segala kecantikannya, aku suka kota ini.

Kuteruskan perjalananku dengan hati yang berkecamuk. Satu-satu kutapaki ubin trotoar yang berwarna-warni dan dengan satu lane di tengah-tengah yang dikhususkan untuk tunanetra. Langkahku semain kupercepat seiring naiknya sang fajar yang mulai merekah di ufuk timur. Juga kulakukan agar semua kenangan ini cepat merasuk tanpa harus merajuk untuk tetap tinggal.

Welcome back, me!

comments powered by Disqus