Not a Note Catatan Pribadi

Perpisahan

Prolog: Air mata

Hari ini aku pulang. Mungkin agak sore aku ke rumahmu.

Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Hanna. Sesimpul senyum tersungging di wajahnya. Sudah sekitar sebulan dia intens berbalas pesan singkat dan saling menelepon. Dia pun merasa nyaman dengan kehadiran si lelaki. Sangat berbeda dengan hubungan mereka sebelum naik kelas. Dikatakan bermusuhan enggak juga, tapi dibilang berteman juga nggak pas karena mereka jarang sekali mengobrol. Titik nadirnya adalah ketika si lelaki mengantar teman ke rumahnya. Katanya ingin pedekate alias mbribik *. Itu dua bulan yang lalu. Entah mengapa, yang malah jadi deket adalah si lelaki, dan bukan temannya yang katanya mau pedekate. Hanna tahu bahwa dia tidak benar-benar suka kepada orang yang akan ditemuinya nanti sore. Tapi di sisi lain, tak juga bisa dipungkiri bahwa dia merasa nyaman berada di dekatnya, atau bahkan ketika ia mendapat pesan-pesan pendek darinya.


“Aku nggak yakin bisa menerima cintamu,” kata Hanna pelan.

“Kita jalani aja dulu gimana?”

Backstreet?

“Boleh. Kalau itu memang maumu.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Kenapa?”

“Bahwa Aku masih belum bisa menerimamu apa adanya. Atau mungkin karena aku malu denganmu, maybe?”

“Sure. I’m okay with that. Why? Are you gonna change your mind?”

“I’m afraid that you gonna be disappointed.”

“Di masa depan, Aku nggak akan menyesal atas keputusan yang kuambil hari ini. Aku akan menyesal kalau aku nggak mencoba memperjuangkan ini.”


Kamu di rumah?” Satu pesan mauk ke telepon genggam Hanna.

Ya.

Marah kah?

No.

Why?

Kamu tau jawabannya. Kamu tingal pilih dia atau Aku.

Aku ke rumahmu sekarang, jangan kemana-mana!.

Aku tidak di rumah. Ga usah kesini.

Tidak mungkin. Aku di depan rumahmu. Kata adikmu, kamu baru saja pulang.

Pulanglah. Aku nggak akan menemuimu.

Beri aku kesempatan.

Satu kalimat.

Kami sudah putus sejak sebulan yang lalu. Dia tidak bisa menerima bahwa kami sudah putus.

That was two. And it doesn’t make a sense. Kamu masih menghubungi dia. Bahkan ketika kamu nembak aku. Aku benci itu.

Apa yang harus kulakukan?

Sudah kubilang kan. Pilih dia atau Aku. Pikirkan ulang. Kamu boleh kembali kepadanya. Aku nggak akan marah. Tapi kalau kau pilih dia, pastikan kau tak lagi mencariku. Tak usah pula kau berbicara padaku. Anggap saja kita tak pernah kenal.

Hanna melempar telepon genggamnya ke kasur. Ia menutup mukanya dengan bantal. Tak lama, terdengar isak tangis yang semakin lama semakin keras.


Ruang tamu hening. Sangat hening sehingga jika ada jarum yang jatuh pun akan terdengar. Kebisuan yang mencekam.

“Jadi, kamu akan berangkat kapan?”

“Nanti pas malam tahun baru. Murah tiketnya.”

“Could you consider it again? For me maybe?”

“…”

“Aku tak akan memaksamu.”

“Aku nggak bisa bilang enggak kalau kamu yang minta. Please, jangan minta aku untuk tinggal.”

Hanna terisak. Lagi. Air matanya tak terbendung. Satu-satunya suara di ruang tamu saat ini hanyalah sesenggukan Hanna. Tangannya mencoba menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. Entah sejak kapan kepalanya bersandar ke pundak manusia di depannya. Manusia yang mengombang-ambingkan perasaannya selama beberapa bulan terakhir. Manusia yang hanya mampir sebentar di hidupnya, untuk kemudian pergi, terbang entah kemana setelah meninggalkan banyak jejak di dalam kenangan-kenangan yang tak mudah dilupakan.

hug

comments powered by Disqus